Latest Post

Quick Count; Perspektif Historis – Teoritis

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Rabu, 13 Agustus 2014 | Rabu, Agustus 13, 2014

Oleh: Cosmas Eko Suharyanto, S.Kom
A quick count is a powerful method for monitoring election day developments (NDI)

Suhu Politik sepekan terakhir mencapai derajat didih tertinggi. Para pakar dan pengamat perpolitikan nasional telah mewanti-wanti jauh sebelum Pilpres bahwa pesta demokrasi tahun ini akan berbeda. Prolog geliat Pilpres terendus banyak cacat; mulai dari serangan kampanye hitam (black campaign), pecahnya rantai kepartaian internal akibat kadernya tidak satu pandangan dalam mendukung Capres-Cawapres, euphoria Sosial Media (sosmed); yang pada tahap hari Pencoblosan dipertontonkan dalam panggung demokrasi Indonesia “pertarungan Lembaga Survei” terhadap hasil Hitung Cepat (Quick Count) yang mengunggulkan kedua kubu Capres-Cawapres.
 
foto: indopos.co.id
Penulis tidak akan membahas lembaga mana yang lebih kredible dan patut dijadikan rujukan yang akan menambah bara di tengah kesejukan Ramadhan Suci ini, namun mari kita melihat dari perspektif historis-teoritis sebagai bentuk kepedulian pendidikan demokrasi bagi masyarakat.

Secara umum, Quick Count adalah sebuah metode verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Berbeda dengan survei perilaku pemilih, survei pra-pilkada atau survei exit poll, Quick Count memberikan gambaran dan akurasi yang lebih tinggi, karena Quick Count menghitung hasil pemilu langsung dari TPS target, bukan berdasarkan persepsi atau pengakuan responden. Selain itu, Quick Count bisa menerapkan teknik sampling probabilitas sehingga hasilnya jauh lebih akurat dan dapat mencerminkan populasi secara tepat. 

The National Democratic Institute for International Affairs (NDI), sebuah organisasi non-profit dunia yang bekerja untuk memperkuat dan memperluas demokrasi di seluruh dunia, mendefinisikan Quick Count sebagai proses pengumpulan informasi yang dikumpulkan oleh ratusan, atau ribuan, sukarelawan. Semua informasi, atau data, berasal dari pengamatan langsung proses pemilu. Seorang sukarelawan yang disebut Observer, memantau aktivitas penghitungan suara pemilu yang dilaksanakan Panitia Pemungutan Suara (PPS), me-record informasi termasuk penghitungan suara yang sebenarnya, pada formulir standar dan mengkomunikasikan temuan mereka ke tempat pengumpulan pusat (central collection point).

Umumnya, Quick Count memiliki dua komponen: 1) pemeriksaan independen atas total suara resmi dan 2) analisis sistematis dari aspek kualitatif dari proses pemilu. Memang yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah proses perhitungan tepat atau dimanipulasi? Apakah proses penjumlahan ke tingkat kabupaten, propinsi dan nasional sudah benar? Apakah preferensi pemilih sudah tercermin dengan benar? Dalam banyak kasus tidak ada penilaian independen lain dari penghitungan suara resmi yang dikeluarkan oleh otoritas yang telah ditunjuk (missal KPU untuk di Indonesia). Namun, dalam lingkungan politik di mana segmen besar masyarakat kurang percaya dalam proses pemilu, quick count dapat mempromosikan keyakinan dalam hasil resmi.

Tujuan Quick Count
 Quick Count yang sukses selalu dimulai dengan pemahaman dan pernyataan yang jelas akan tujuan projek tersebut. Seorang Pimpinan Quick Count harus mengidentifikasi tujuan mereka dalam memfasilitasi kedua pendekatan strategis dan rencana taktis. Adapun tujuan potensial dari sebuah Quick Count sebagaimana dipertegas dalam NDI adalah untuk menghalangi penipuan (deterring fraud), mendeteksi kecurangan (detecting fraud), menawarkan perkiraan hasil dengan tepat waktu, menanamkan kepercayaan dalam proses pemilihan dan hasil resmi, melaporkan pada kualitas proses, mendorong partisipasi masyarakat (citizen participation).

Oleh karena itu dibutuhkan prasyarat agar sebuah lembaga independen dapat melakukan Quick Count dengan baik, diantaranya Access to data: observer harus memiliki akses ke tempat pemungutan suara dan pusat penghitungan (central collection point), Credibility with Audiences: kelompok harus kredibel (misalnya, harus dipercaya oleh sebagian besar khalayak utama/key audience pada hari pemilihan), dan yang terakhir adalah sumber daya yang cukup (Adequate Resources): proyek perlu didukung oleh sumber daya yang memadai.

Pola perekrutan staf harus benar-benar dipertimbangkan, baik dari pengalaman dan technical skill, pemahaman akan tujuan Quick Count,  dan dalam lingkup politik tertentu harus tahu dengan baik akan potensi implikasi politik.

Personil Quick Count umumnya disusun dalam tim fungsional, yang artinya, setiap bagian (fungsi) memiliki tugas dengan kualifikasi tertentu yang harus telah didefinisikan sebelumnya, termasuk di dalamnya membangun jaringan sukarelawan (volunteer network); recruiting,  training dan Logistik.

Prinsip Dasar Statistik
Prinsip-prinsip statistik mendorong metodologi untuk mengumpulkan dan menganalisis data quick count.  Metodologi ini didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah yang diterima secara luas. Pernyataan apapun yang dibuat tentang proses pada hari pemilihan/pencoblosan hanya dan hanya sebanding/sekuat dengan DATA yang telah dijadikan pijakan. Karena itu, penting untuk mengambil langkah-langkah yang cukup akurat untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan memenuhi standar tertentu. Salah satunya adalah bahwa data quick count sendiri harus “kuat (robust)” dalam arti handal (reliable) dan valid.

Kekuatan data salah satunya ditopang oleh bagaimana konstruksi sampel. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan karakteristik yang diamati. Dalam Quick Count, sampel menentukan penilaian yang digunakan sebagai dasar untuk memperkirakan hasil pemilu. Jika pengamatan sistematis kualitatif dari keseluruhan prosedur hari pencoblosan benar-benar handal dan valid dan jika prinsip-prinsip dasar statistik diikuti, maka perkiraan yang akurat tentang distribusi suara untuk seluruh wilayah dapat ditarik dengan benar. Prinsip umum dalam aturan statistik, salah satu yang memiliki implikasi yang kuat terhadap quick count adalah semakin besar jumlah pengamatan yang kita miliki, semakin besar kemungkinan adalah bahwa kita dapat membuat prediksi statistik yang dapat diandalkan tentang karakteristik populasi.

The Margin of Error: How Accurate Do We Need to Be?
Margin of Error adalah sebuah istilah statistik yang menunjukan besarnya kesalahan (error) pada sampel yang random di sebuah hasil survey. Kalau ukuran (persentase) Margin of Error lebih besar, lebih jauh keyakinan sebuah survey dari nilai yang "sesungguhnya", yaitu angka dari seluruh populasi. Umumnya organisasi Quick Count akan merancang sampel quick count dengan margin of error lebih kurang 0,5 %. Penentuan ini berdampak langsung terhadap perhitungan untuk menentukan ukuran sampel minimum yang diperlukan.

Pengumpulan, analisis data dan penyajian hasil Quick Count
Tantangan utama dalam quick count  adalah bagaimana mengumpulkan, mengirimkan, menggabungkan dan menganalisis informasi dalam volume yang besar pada saat yang hampir bersamaan, melakukannya dengan andal dan cepat. Ada fluktuasi yang sangat besar dalam volume informasi yang mengalir dari observer di lapangan ke pusat pengumpulan data. Dibutuhkan pengembangan strategi yang efektif dalam mengelola peak volume pada asupan informasi. Kemacetan informasi atau kerusakan lainnya dapat menyebabkan hilangnya informasi. Telephone system harus mampu mengelola pada peak time arus data tersebut, namun cara-cara alternatif untuk menyampaikan informasi observer ke pusat-pusat pengumpulan data harus dipertimbangkan, misalnya dengan aplikasi online bebasis internet.

Master Database, tempat penyimpanan informasi yang terkomputerisasi, dapat dikembangkan selama fase pertama. Bahkan, database harus dikembangkan dari saat ketika observer pertama kali direkrut. Database ini merupakan sumber daya dasar yang penting yang dapat digunakan untuk pelacakan perekrutan dan pelatihan, serta pusat informasi pada hari pemilihan dalam monitoring arus data.

Jika semua data telah terkumpul, selanjutnya dilakukan tahap analisis data statistik dan penyajian laporan quick count. Peran utama dari unit analisis adalah untuk mengembangkan gambaran yang jelas tentang karakter kondisi lapangan dan dengan hati-hati memeriksa semua data observasi.

Pada hari pencoblosan, organisasi atau lembaga survey berada di bawah tekanan kuat, untuk merilis hasil quick count pada proyeksi suara sedini mungkin. Prioritas analis, bagaimanapun, harus menjadi komitmen untuk memastikan bahwa data yang dirilis hanya dirilis setelah data telah jelas ditetapkan benar-benar akurat dan dapat diandalkan. Bahkan, merupakan kesalahan yang sangat serius untuk merilis data yang belum benar-benar diperiksa. Hal ini terikat langsung dengan reaksi publik terhadap hasil Quick Count tersebut.


Para pembaca, Quick Count telah menjadi bagian integral dari proses demokrasi di Indonesia. Tujuan Quick Count dalam menghalangi penipuan (deterring fraud), mendeteksi kecurangan (detecting fraud), menanamkan kepercayaan dalam proses pemilihan dan hasil resmi, dan mendorong partisipasi masyarakat (citizen participation) dipertaruhkan dengan integritas sebuah lembaga survey untuk tetap netral demi menjaga demokrasi berjalan pada ritmenya di tengah kepungan bobroknya mental oknum partisan.
"Demokrasi didasarkan pada keyakinan bahwa ada kemungkinan luar biasa pada orang biasa." Harry Emerson Fosdick (1878-1969). ?

AsIPA (BEC) Desk Plan for 2014

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Rabu, 30 April 2014 | Rabu, April 30, 2014

Foto: www.ucanews.com


1. BILA (BILA (Bishops Institute on Lay Apostolate) II on SCCs

We are glad to announce and invite you to BILA II on SCCs. It will be held from September 25th to 30th, 2014 in Camillian Pastoral Care Center in Bangkok, Thailand. It is designed for bishops and their pastoral core team for building up SCCs as a follow up to BILA I on SCCs in 2010. It is organized by the FABC AsIPA (BEC) Desk of Office of Laity and Family and the BEC National Team of Thailand.

Its proposed theme is ‘SCCs Leading to New Evangelization’. It aims at reflecting on “the value of basic ecclesial communities as an effective way of promoting communion and participation in parishes and dioceses, and as a genuine force for evangelization” (Ecclesia in Asia, no. 25). It also aims at deepening our understanding of SCCs and renewing a way of building up SCCs in our own context based on EVANGELII GAUDIUM. It will help participants find concrete examples and models of SCCs as an effective instrument for new evangelization.

We kindly request bishops to join it preferably as a team of 2-3 persons who are responsible for the implementation of the vision of SCCs. More details are given in the enclosed information flier with an application form. Please kindly send your application form by May 10, 2014.
.
  1. Dates and Venue
  • Dates: September 25 (Thurs.) - 30 (Tue. )till afternoon 2014: (Arrival on Sept. 25th in the morning, before 16:00; Departure on Sept. 30th in the evening or Oct. 1th anytime)
  • Venue: Camillian Pastoral Care Center in Lat Krabang Bangkok, Thailand
  1. Participants
  • Proposed total number of participants: maximum  80 persons
  • Priority: Bishops and diocesan directors/key personnel for SCCs/BECs as a team at diocesan and national level
  • Please kindly send your application form through the national SCCs/BECs team within the country by May 10, 2014
  1. Proposed Theme
  • “SCCs Leading to New Evangelization"
  1. Objectives
  • To strengthen the process towards the vision of the Second Vatican Council--communion of communities/a participatory Church--through SCCs
  • To deepen our understanding of SCCs based on EVANGELII GAUDIUM
  • To discover concrete examples how SCCs become an effective instrument for new evangelization
    : Mutual and enriching relationship between family and SCCs, renewing pastoral structure for participation and shared responsibility to support SCCs etc.
  • To share and learn what is an important role of bishops and directors in animating SCCs
  •  To renew ourselves as ‘Spirit-filled evangelizers’ for building up SCCs
  •  To provide a forum for sharing experiences on SCCs in accompaniment


  • Application form should be sent through the national SCCs/BECs team within the country by May 10, 2014.

Virus Shortcut-Sepele tapi Jadi Gawe

Dear rekans,
Tentu kita semua sudah tidak asing dengan Virus "SHORTCUT". Umumnya virus ini menyerang media removable untuk selanjutnya akan menyerang laptop atau pc atau perangkat lainnya.
Saya pernah menjadi korban tapi sudah sangat lama sekali, mungkin sudah di atas 5 tahun yang lalu. Namun, beberapa hari yang lalu, saya menjadi korban virus ini. Ceritanya saya sedang ke toko stationary di area kampus untuk mencetak (print) soal mahasiswa. Setelah saya tancepin flashdisk eh malah jadi shortcut semua yang otomatis gak bisa dibuka.

Saya tahu virus ini tidak berbahaya, tapi memang jadi gawe, saya harus memberikan beberapa waktu untuk menghapusnya.
Berikut cara sederhana menghilangkan virus ini dengan perintah command promt pada windows:

1. Buka command promt (cmd)
2. Masuk pada direktori flash disk yang terserang (misa E, maka ketik E:)
3. Setelah masuk ke E, maka ketikkan perintah ini: attrib -s -h -r /s /d
4. Enter dan tunggu sampai proses selesai
5. Keluar dari command promt dan masuk pada flash disk (E)
6. Anda akan menjumpai 2 file yang terdupilakasi, yang satu kena virus dan yang satunya tidak. Hapus file yang ada tanda shortcutnya...
7. Dah...selesai....

Oke, seterusnya scan lah komputer yang sudah terserang virus tersebut dengan menggunakan anti-virus yang update.

regards
ces

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Magnificatkami - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger