Latest Post

Prof. Din Syamsuddin, jadi Pembicara pada Forum Dialog Katolik-Muslim di Vatikan

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Rabu, 19 November 2014 | Rabu, November 19, 2014

Source: 
http://indonesia.ucanews.com/
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Din Syamsuddin tampil sebagai pembicara pada acara The Third Catholic-Muslim Forum, di Vatikan, 11-13 November 2014.
Din mengatakan The Third Catholic-Muslim Forum merupakan forum dialog tokoh Katolik dan Muslim dunia.
The Third Catholic-Muslim Forum merupakan wadah dialog tokoh Katolik dan Muslim tingkat dunia yang diselenggarakan Vatikan dan Gerakan Common Word (Kalimatun Sawa) berpusat di Amman, Jordan, setiap dua tahun sekali,” kata Din, melalui siaran pers, seperti dikutip  Antara, Senin (17/11/2014).
Din menyebutkan bahwa  forum ketiga di Vatikan kali ini dihadiri oleh 13 tokoh Katolik dan Muslim. Sebelumnya, pada penyelenggaraan pertama dan kedua, forum ini dihadiri 21 orang dan 23  tokoh kedua agama.
Hadir dari pihak Katolik, antara lain Presiden Dewan Kepausan Dialog Antaragama Vatikan Jean-Louis Kardinal Tauran; Pastor Miguel Ayuso Guixot Vatikan; Biro of Islam Vatikan Khaled Akasheh, Vincenzo Buonomo; Pontifical Lateran University, Roma, Mgr Hario Antoniazzi.
Ada pun, dari pihak Muslim hadir ulama dan cendekiawan Muslim asal Iran Prof Hossein Nasr, Prof Abdullah Scheleifer dari Mesir, Grand Mufti of Bosnia Prof Mustafa Ceri, Grand Mufti of Kosovo Shaikh Naim Ternava, Prof Ali Aref Nayed dari Libya, dan Prof Din Syamsuddin dari Indonesia.
Forum ketiga ini mengangkat tema Working Together to Serve Other, dan membahas subtema tentang “Service of youth, enhance Interreligious dialogue”, dan “Service of society” dengan seorang narasumber dari masing-masing pihak.
Din tampil mewakili Muslim pada sesi ketiga tentang “Working Together to Serve Society” atau Kerja Sama Melayani Masyarakat.
Dalam makalahnya, Din membahas perspektif teologis kerja sama antarumat beragama dan alasan-alasan sosiologis tentang perlunya kerja sama dikembangkan dalam rangka mengatasi kerusakan dunia yang bersifat akumulatif, serta bentuk-bentuk kerja sama yang perlu dikembangkan dari sisi kebudayaan.
Pada akhir kegiatan, semua peserta diterima oleh Paus Fransiskus di ruang kerjanya di lingkungan Vatikan dan masing-masing peserta mendapat kenang-kenangan dari Paus Fransiskus.
Din mengatakan hal itu adalah kesempatan kedua diterima Paus Fransiskus  saat menghadiri acara lain di Vatikan. (Kompas.com)

Berdoa untuk MGR. Yu

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Kamis, 13 November 2014 | Kamis, November 13, 2014

Source : FP Katolik Indonesia

Yang Mulia, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Tanjungkarang, terkena serangan jantung dan sekarang dirawat di RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta. 

Beliau ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 10 Oktober 2013 dengan mengambil motto "Non Est Personarum Acceptor Deus" (Tuhan tidak membeda-bedakan orang).

Uskup kelahiran Way Ratai, Padang Dermin, Lampung, 4 Juli 1964, ini menerima tahbisan imam pada 8 Desember 1992 sebagai imam Diosesan Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Yang Mulia Mgr. Yohanes sempat meraih gelar Lisensiat Islamologi dari Institut Kepausan Arab dan Studi Islam Roma.

Beliau pun sempat berkarya sebagai pastor di Paroki Sungailiat, Keuskupan Pangkalpinang.

Tercatat, sejak 1 September 1999 hingga 2008, beliau menjadi dosen di STFT St Yohanes Pematangsiantar, yang secara khusus mengampu mata kuliah Islamologi. Dan sejak September 2010, beliau menjabat sebagai Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan St Petrus Pematangsiantar, Sumatera Utara, hingga ditunjuk Vatikan sebagai Uskup Tanjungkarang.

Dengan demikian, sebagian besar karyanya dijalani sebagai formator untuk calon imam di seminari.

Marilah kita berdoa untuk kesembuhan Bapa Uskup....

[pax Cristi]

Quick Count; Perspektif Historis – Teoritis

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Rabu, 13 Agustus 2014 | Rabu, Agustus 13, 2014

Oleh: Cosmas Eko Suharyanto, S.Kom
A quick count is a powerful method for monitoring election day developments (NDI)

Suhu Politik sepekan terakhir mencapai derajat didih tertinggi. Para pakar dan pengamat perpolitikan nasional telah mewanti-wanti jauh sebelum Pilpres bahwa pesta demokrasi tahun ini akan berbeda. Prolog geliat Pilpres terendus banyak cacat; mulai dari serangan kampanye hitam (black campaign), pecahnya rantai kepartaian internal akibat kadernya tidak satu pandangan dalam mendukung Capres-Cawapres, euphoria Sosial Media (sosmed); yang pada tahap hari Pencoblosan dipertontonkan dalam panggung demokrasi Indonesia “pertarungan Lembaga Survei” terhadap hasil Hitung Cepat (Quick Count) yang mengunggulkan kedua kubu Capres-Cawapres.
 
foto: indopos.co.id
Penulis tidak akan membahas lembaga mana yang lebih kredible dan patut dijadikan rujukan yang akan menambah bara di tengah kesejukan Ramadhan Suci ini, namun mari kita melihat dari perspektif historis-teoritis sebagai bentuk kepedulian pendidikan demokrasi bagi masyarakat.

Secara umum, Quick Count adalah sebuah metode verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Berbeda dengan survei perilaku pemilih, survei pra-pilkada atau survei exit poll, Quick Count memberikan gambaran dan akurasi yang lebih tinggi, karena Quick Count menghitung hasil pemilu langsung dari TPS target, bukan berdasarkan persepsi atau pengakuan responden. Selain itu, Quick Count bisa menerapkan teknik sampling probabilitas sehingga hasilnya jauh lebih akurat dan dapat mencerminkan populasi secara tepat. 

The National Democratic Institute for International Affairs (NDI), sebuah organisasi non-profit dunia yang bekerja untuk memperkuat dan memperluas demokrasi di seluruh dunia, mendefinisikan Quick Count sebagai proses pengumpulan informasi yang dikumpulkan oleh ratusan, atau ribuan, sukarelawan. Semua informasi, atau data, berasal dari pengamatan langsung proses pemilu. Seorang sukarelawan yang disebut Observer, memantau aktivitas penghitungan suara pemilu yang dilaksanakan Panitia Pemungutan Suara (PPS), me-record informasi termasuk penghitungan suara yang sebenarnya, pada formulir standar dan mengkomunikasikan temuan mereka ke tempat pengumpulan pusat (central collection point).

Umumnya, Quick Count memiliki dua komponen: 1) pemeriksaan independen atas total suara resmi dan 2) analisis sistematis dari aspek kualitatif dari proses pemilu. Memang yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah proses perhitungan tepat atau dimanipulasi? Apakah proses penjumlahan ke tingkat kabupaten, propinsi dan nasional sudah benar? Apakah preferensi pemilih sudah tercermin dengan benar? Dalam banyak kasus tidak ada penilaian independen lain dari penghitungan suara resmi yang dikeluarkan oleh otoritas yang telah ditunjuk (missal KPU untuk di Indonesia). Namun, dalam lingkungan politik di mana segmen besar masyarakat kurang percaya dalam proses pemilu, quick count dapat mempromosikan keyakinan dalam hasil resmi.

Tujuan Quick Count
 Quick Count yang sukses selalu dimulai dengan pemahaman dan pernyataan yang jelas akan tujuan projek tersebut. Seorang Pimpinan Quick Count harus mengidentifikasi tujuan mereka dalam memfasilitasi kedua pendekatan strategis dan rencana taktis. Adapun tujuan potensial dari sebuah Quick Count sebagaimana dipertegas dalam NDI adalah untuk menghalangi penipuan (deterring fraud), mendeteksi kecurangan (detecting fraud), menawarkan perkiraan hasil dengan tepat waktu, menanamkan kepercayaan dalam proses pemilihan dan hasil resmi, melaporkan pada kualitas proses, mendorong partisipasi masyarakat (citizen participation).

Oleh karena itu dibutuhkan prasyarat agar sebuah lembaga independen dapat melakukan Quick Count dengan baik, diantaranya Access to data: observer harus memiliki akses ke tempat pemungutan suara dan pusat penghitungan (central collection point), Credibility with Audiences: kelompok harus kredibel (misalnya, harus dipercaya oleh sebagian besar khalayak utama/key audience pada hari pemilihan), dan yang terakhir adalah sumber daya yang cukup (Adequate Resources): proyek perlu didukung oleh sumber daya yang memadai.

Pola perekrutan staf harus benar-benar dipertimbangkan, baik dari pengalaman dan technical skill, pemahaman akan tujuan Quick Count,  dan dalam lingkup politik tertentu harus tahu dengan baik akan potensi implikasi politik.

Personil Quick Count umumnya disusun dalam tim fungsional, yang artinya, setiap bagian (fungsi) memiliki tugas dengan kualifikasi tertentu yang harus telah didefinisikan sebelumnya, termasuk di dalamnya membangun jaringan sukarelawan (volunteer network); recruiting,  training dan Logistik.

Prinsip Dasar Statistik
Prinsip-prinsip statistik mendorong metodologi untuk mengumpulkan dan menganalisis data quick count.  Metodologi ini didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah yang diterima secara luas. Pernyataan apapun yang dibuat tentang proses pada hari pemilihan/pencoblosan hanya dan hanya sebanding/sekuat dengan DATA yang telah dijadikan pijakan. Karena itu, penting untuk mengambil langkah-langkah yang cukup akurat untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan memenuhi standar tertentu. Salah satunya adalah bahwa data quick count sendiri harus “kuat (robust)” dalam arti handal (reliable) dan valid.

Kekuatan data salah satunya ditopang oleh bagaimana konstruksi sampel. Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan karakteristik yang diamati. Dalam Quick Count, sampel menentukan penilaian yang digunakan sebagai dasar untuk memperkirakan hasil pemilu. Jika pengamatan sistematis kualitatif dari keseluruhan prosedur hari pencoblosan benar-benar handal dan valid dan jika prinsip-prinsip dasar statistik diikuti, maka perkiraan yang akurat tentang distribusi suara untuk seluruh wilayah dapat ditarik dengan benar. Prinsip umum dalam aturan statistik, salah satu yang memiliki implikasi yang kuat terhadap quick count adalah semakin besar jumlah pengamatan yang kita miliki, semakin besar kemungkinan adalah bahwa kita dapat membuat prediksi statistik yang dapat diandalkan tentang karakteristik populasi.

The Margin of Error: How Accurate Do We Need to Be?
Margin of Error adalah sebuah istilah statistik yang menunjukan besarnya kesalahan (error) pada sampel yang random di sebuah hasil survey. Kalau ukuran (persentase) Margin of Error lebih besar, lebih jauh keyakinan sebuah survey dari nilai yang "sesungguhnya", yaitu angka dari seluruh populasi. Umumnya organisasi Quick Count akan merancang sampel quick count dengan margin of error lebih kurang 0,5 %. Penentuan ini berdampak langsung terhadap perhitungan untuk menentukan ukuran sampel minimum yang diperlukan.

Pengumpulan, analisis data dan penyajian hasil Quick Count
Tantangan utama dalam quick count  adalah bagaimana mengumpulkan, mengirimkan, menggabungkan dan menganalisis informasi dalam volume yang besar pada saat yang hampir bersamaan, melakukannya dengan andal dan cepat. Ada fluktuasi yang sangat besar dalam volume informasi yang mengalir dari observer di lapangan ke pusat pengumpulan data. Dibutuhkan pengembangan strategi yang efektif dalam mengelola peak volume pada asupan informasi. Kemacetan informasi atau kerusakan lainnya dapat menyebabkan hilangnya informasi. Telephone system harus mampu mengelola pada peak time arus data tersebut, namun cara-cara alternatif untuk menyampaikan informasi observer ke pusat-pusat pengumpulan data harus dipertimbangkan, misalnya dengan aplikasi online bebasis internet.

Master Database, tempat penyimpanan informasi yang terkomputerisasi, dapat dikembangkan selama fase pertama. Bahkan, database harus dikembangkan dari saat ketika observer pertama kali direkrut. Database ini merupakan sumber daya dasar yang penting yang dapat digunakan untuk pelacakan perekrutan dan pelatihan, serta pusat informasi pada hari pemilihan dalam monitoring arus data.

Jika semua data telah terkumpul, selanjutnya dilakukan tahap analisis data statistik dan penyajian laporan quick count. Peran utama dari unit analisis adalah untuk mengembangkan gambaran yang jelas tentang karakter kondisi lapangan dan dengan hati-hati memeriksa semua data observasi.

Pada hari pencoblosan, organisasi atau lembaga survey berada di bawah tekanan kuat, untuk merilis hasil quick count pada proyeksi suara sedini mungkin. Prioritas analis, bagaimanapun, harus menjadi komitmen untuk memastikan bahwa data yang dirilis hanya dirilis setelah data telah jelas ditetapkan benar-benar akurat dan dapat diandalkan. Bahkan, merupakan kesalahan yang sangat serius untuk merilis data yang belum benar-benar diperiksa. Hal ini terikat langsung dengan reaksi publik terhadap hasil Quick Count tersebut.


Para pembaca, Quick Count telah menjadi bagian integral dari proses demokrasi di Indonesia. Tujuan Quick Count dalam menghalangi penipuan (deterring fraud), mendeteksi kecurangan (detecting fraud), menanamkan kepercayaan dalam proses pemilihan dan hasil resmi, dan mendorong partisipasi masyarakat (citizen participation) dipertaruhkan dengan integritas sebuah lembaga survey untuk tetap netral demi menjaga demokrasi berjalan pada ritmenya di tengah kepungan bobroknya mental oknum partisan.
"Demokrasi didasarkan pada keyakinan bahwa ada kemungkinan luar biasa pada orang biasa." Harry Emerson Fosdick (1878-1969). ?
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Magnificatkami - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger