Latest Post

AsIPA (BEC) Desk Plan for 2014

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Rabu, 30 April 2014 | Rabu, April 30, 2014

Foto: www.ucanews.com


1. BILA (BILA (Bishops Institute on Lay Apostolate) II on SCCs

We are glad to announce and invite you to BILA II on SCCs. It will be held from September 25th to 30th, 2014 in Camillian Pastoral Care Center in Bangkok, Thailand. It is designed for bishops and their pastoral core team for building up SCCs as a follow up to BILA I on SCCs in 2010. It is organized by the FABC AsIPA (BEC) Desk of Office of Laity and Family and the BEC National Team of Thailand.

Its proposed theme is ‘SCCs Leading to New Evangelization’. It aims at reflecting on “the value of basic ecclesial communities as an effective way of promoting communion and participation in parishes and dioceses, and as a genuine force for evangelization” (Ecclesia in Asia, no. 25). It also aims at deepening our understanding of SCCs and renewing a way of building up SCCs in our own context based on EVANGELII GAUDIUM. It will help participants find concrete examples and models of SCCs as an effective instrument for new evangelization.

We kindly request bishops to join it preferably as a team of 2-3 persons who are responsible for the implementation of the vision of SCCs. More details are given in the enclosed information flier with an application form. Please kindly send your application form by May 10, 2014.
.
  1. Dates and Venue
  • Dates: September 25 (Thurs.) - 30 (Tue. )till afternoon 2014: (Arrival on Sept. 25th in the morning, before 16:00; Departure on Sept. 30th in the evening or Oct. 1th anytime)
  • Venue: Camillian Pastoral Care Center in Lat Krabang Bangkok, Thailand
  1. Participants
  • Proposed total number of participants: maximum  80 persons
  • Priority: Bishops and diocesan directors/key personnel for SCCs/BECs as a team at diocesan and national level
  • Please kindly send your application form through the national SCCs/BECs team within the country by May 10, 2014
  1. Proposed Theme
  • “SCCs Leading to New Evangelization"
  1. Objectives
  • To strengthen the process towards the vision of the Second Vatican Council--communion of communities/a participatory Church--through SCCs
  • To deepen our understanding of SCCs based on EVANGELII GAUDIUM
  • To discover concrete examples how SCCs become an effective instrument for new evangelization
    : Mutual and enriching relationship between family and SCCs, renewing pastoral structure for participation and shared responsibility to support SCCs etc.
  • To share and learn what is an important role of bishops and directors in animating SCCs
  •  To renew ourselves as ‘Spirit-filled evangelizers’ for building up SCCs
  •  To provide a forum for sharing experiences on SCCs in accompaniment


  • Application form should be sent through the national SCCs/BECs team within the country by May 10, 2014.

Virus Shortcut-Sepele tapi Jadi Gawe

Dear rekans,
Tentu kita semua sudah tidak asing dengan Virus "SHORTCUT". Umumnya virus ini menyerang media removable untuk selanjutnya akan menyerang laptop atau pc atau perangkat lainnya.
Saya pernah menjadi korban tapi sudah sangat lama sekali, mungkin sudah di atas 5 tahun yang lalu. Namun, beberapa hari yang lalu, saya menjadi korban virus ini. Ceritanya saya sedang ke toko stationary di area kampus untuk mencetak (print) soal mahasiswa. Setelah saya tancepin flashdisk eh malah jadi shortcut semua yang otomatis gak bisa dibuka.

Saya tahu virus ini tidak berbahaya, tapi memang jadi gawe, saya harus memberikan beberapa waktu untuk menghapusnya.
Berikut cara sederhana menghilangkan virus ini dengan perintah command promt pada windows:

1. Buka command promt (cmd)
2. Masuk pada direktori flash disk yang terserang (misa E, maka ketik E:)
3. Setelah masuk ke E, maka ketikkan perintah ini: attrib -s -h -r /s /d
4. Enter dan tunggu sampai proses selesai
5. Keluar dari command promt dan masuk pada flash disk (E)
6. Anda akan menjumpai 2 file yang terdupilakasi, yang satu kena virus dan yang satunya tidak. Hapus file yang ada tanda shortcutnya...
7. Dah...selesai....

Oke, seterusnya scan lah komputer yang sudah terserang virus tersebut dengan menggunakan anti-virus yang update.

regards
ces

TIGA KALI PRESIDEN SOEKARNO MENEMUI PAUS DI VATIKAN

Written By Cosmas Eko Suharyanto on Minggu, 27 April 2014 | Minggu, April 27, 2014

Artikel diambil dari FanPage Gereja Katolik, Oleh : A.Kunarwoko (www.sesawi.net)



PRESIDEN Soekarno adalah satu-satunya Presiden Indonesia yang berhasil "memecahkan rekor" bertemu dengan Paus di Vatikan. Presiden pertama Indonesia ini dalam kurun 8 tahun, telah 3 kali berkunjung ke Vatikan dan bertemu dengan 3 Paus.


Kunjungan pertama Soekarno ke Vatikan terjadi pada hari Rabu, 13 Juni 1956. Presiden Soekarno diterima Paus Pius XII selama 20 menit, pada audiensi pribadi. Pada kesempatan itu, Soekarno menerima anugerah "Grand Cross of the Pian Order" dari Paus Pius XII. Kardinal Nardone, PM Vatikan waktu itu, ikut mendampingi Paus Pius XII menerima Soekarno.

Kunjungan kedua Soekarno, terjadi pada hari Kamis, 14 Mei 1959. Presiden Soekarno diterima oleh Paus Yohanes XIII dalam sebuah upacara kenegaraan Vatikan yang sangat megah. Ada dokumentasi berharga pada kunjungan ini, yang bisa Anda lihat di website ini.

Kunjungan ketiga dan terakhir Soekarno ke Vatikan, terjadi pada tanggal pada Senin, 12 Oktober 1964. Presiden Soekarno diterima oleh Paus Paulus VI. Untuk mengenang kunjungan ini, Vatikan menerbitkan perangko khusus. Inilah pertama kali dan satu-satunya kunjungan Presiden Indonesia yang sampai "dibuatkan" perangko oleh Vatikan. Pada kesempatan itu, Soekarno menerima cindera mata dari Paus Paulus VI berupa lukisan mosaik Castel San Angelo Vatikan.

Mengapa Presiden Soekarno sering mengunjungi Paus di Vatikan? Mengapa presiden pertama kita ini selalu menyempatkan diri mengadakan audiensi pribadi dengan semua Paus di masa pemerintahannya?

PAUS DI MATA PRESIDEN SOEKARNO

Tentu saja karena Soekarno memiliki persahabatan yang sangat baik dengan Paus dan Gereja Katolik. Bersama Mesir, Vatikan termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Tetapi lebih dari itu, Soekarno tahu betul Paus bukan sekedar pemimpin negara. Paus adalah pemimpin rohani yang ia hormati.

Kata-kata dan nasehat seorang Paus, oleh Soekarno diterima sebagai "nasehat kenabian". Di sisi lain, Paus Pius XII, Paus Yohanes XXII dan Paus Paulus VI, sangat menghormati Indonesia dan presidennya dari sebuah negara besar. Gereja tahu, walau mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, namun keberadaan Gereja Katolik di Indonesia tidak hanya diakui, tetapi juga diterima dan dihormati.

Vatikan juga berterima kasih, Presiden Soekarno memperlakukan kelompok minoritas Gereja Katolik di Indonesia dan karya para missionarisnya dengan sangat baik. Selain itu, melalui Soekarno, para Paus juga bisa "menitipkan" pesan-pesan solidaritas, berbela rasa kepada yang miskin dan tertindas dan nilai-nilai kemanusiaan yang lain.

Vatikan tahu, semenjak Konferensi Asia-Afrika pertama yang digelar di Bandung pada tahun 1955, Soekarno memiliki peran dan pengaruh besar di tingkat dunia. Bersama Presiden Joseph Broz Tito dari Yugoslavia, Gamal Abd el-Nasser dari Mesir, Jawaharlal Nehru dari India, dan Kwame Nkrumah dari Ghana, Presiden Soekarno termasuk "lima serangkai" pendiri Gerakan Non-Blok.

Bersama Kaisar Haile Sellassie dari Ethiopia sebagai pemimpin karismatik Afrika, Soekarno adalah pemimpin karismatik Asia. Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 yang monumental itu dan Konferensi Negara-Negara Non-Blok di Beograd pada tahun 1961, semakin melambungkan nama Soekarno dan Indonesia.

Tidak mengherankan, pada kunjungan pertamanya ke Italia dan Vatikan, Presiden Soekarno membuat “kehebohan” besar. Beberapa keluarga Indonesia yang pernah bekerja di KBRI Italia maupun KBRI Vatikan, atau di Markas FAO di Roma, masih ada yang ingat kisah kunjungan Soekarno pertama ke Italia pada tahun 1956 itu.

PRESIDEN SOEKARNO DAN PARA PEMIMPIN GERAKAN NONBLOK

Presiden Sukarno dari Indonesia bersama empat pemimpin negara lain penggagas berdirinya Kelompok Negara-negara Non Blok yakni PM India Jawaharlar Nehru, Presiden Kenya Kwame Nkrumah, Presiden Mesir Gamal el Abdul Nasser, Presiden Soekarno dan Presiden Yugoslavia Joseph Broz Tito dalam sebuah pertemuan di New York tahun 1960-an. (Ist)

Pak Effendi Surapati dan isterinya Ibu Iin Soehari, misalnya, warga Indonesia yang sekarang tinggal di Orte dekat Roma, selalu bangga menceritakan kunjungan Presiden pertama kita. "Saya selalu merinding kalau mengingat kembali hebatnya Italia dan Vatikan menyambut Presiden Soekarno," kata Pak Effendi sekali waktu.

Kedatangan Soekarno pada kunjungannya yang pertama ke Italia, disambut langsung di Bandara Ciampino oleh Presiden Italia Gronchi. Sesudah upacara penyambutan meriah dengan dentuman meriam dan parade pasukan, Soekarno dan Gronchi naik mobil terbuka menuju Balai Kota Roma.

Sepanjang jalan, orang-orang Itali melambai-lambaikan tangan menyambut Soekarno sebagai tokoh dunia, pelopor Gerakan Non Blok yang waktu itu memang sangat "ngetop". "Numerosi fotografi immortalano l’avvenimento!" (banyak sekali tukang foto mengabadikan kejadian ini), kata Koran Il Messagero.

Di Balai Kota, Soekarno disambut Walikota Roma Rebecchini. Sesudah mengunjungi situs peninggalan kota Roma kuno di Fuori Imperiali, Soekarno lalu menerima jamuan kenegaraan di Istana Presiden Italia di Quirinale. Penampilan fanfare dari Carabinieri (Kepolisian) Istana, menyambut Soekarno.

Selain Soekarno dikenal resmi sebagai Presiden RI, beliau juga seorang pecinta seni dan teknologi. Selama di Roma, Soekarno menyempatkan diri mengunjungi Piazza Navona, meletakkan karangan bunga di altar para pahlawan di Piazza Venezia, dan melempar coin di air mancur legendaris Fontana Trevi.

Dari Roma, Presiden Soekarno juga mengadakan perjalanan "bisnis" ke Napoli, Torino dan Venezia. Di Torino, presiden mengunjungi pabrik mobil Fiat. Sejak saat itu, mobil Fiat masuk Indonesia, termasuk mobil roda tiga "bemo" yang dihadiahkan Fiat kepada Soekarno. Bemo-bemo tua itu, sekarang ini satu-dua masih dipakai melayani penumpang jurusan Bendungan Hilir-Tanah Abang.

KUNJUNGAN KEDUA

Kunjungan kedua Presiden Soekarno kepada Paus Yohanes XXIII berlangsung 3 tahun kemudian. Ini juga tidak kalah "heboh". Soekarno datang ke Vatikan pada pagi hari sekitar pukul 8 pagi waktu Roma. Ia datang diiringi 9 sedan tamu kenegaraan berwarna hitam yang mewah. Dengan gaya kebapakannya yang ramah, Paus Yohanes XXIII yang bertubuh gemuk ini menyambut Presiden Soekarno 'bak sahabat yang sudah lama tidak bertemu dan dirindukan'.

Soekarno sendiri datang dengan "pakaian kebesaran"-nya : jas putih-putih, dasi hitam dan peci hitam, sambil mengempit tongkat kesayangannya di lengan atas tangan kiri. Di lehernya tergantung medali ukiran beruntai kuning emas. Soekarno tampak sudah akrab dengan Sala Clementina (Aula Clemens) tempat Paus Roncalli (Paus Paulus VI) menerimanya.

Lagi-lagi, Soekarno mendapat medali kehormatan dari Paus Yohanes XXIII.

KUNJUNGAN KETIGA DAN TERAKHIR KALINYA

Pada kunjungan ketiga dan terakhirnya di Vatikan pada hari Senin 12 Oktober 1964, Paus Paulus VI menyambut Soekarno dengan kata-kata ini: "Kami menyambut dengan hangat kedatangan Yang Mulia, dengan mengingatkan kembali kedatangan Yang Mulia menemui pendahulu kami, Paus Pius XII dan Paus Yohanes XXIII."

Selanjutnya Paus Paulus memuji Presiden Soekarno, karena memberi sikap yang baik dan bersahabat dengan umat Katolik di Indonesia. Untuk jasanya ini, Paus Paulus VI juga menyematkan tanda penghargaan.

Konon, dalam 2000 tahun sejarah Gereja Katolik, baru kali ini ada seorang presiden muslim dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya juga muslim, berhasil menerima penghargaan dari 3 Paus sekaligus. Soekarno pun bangga sekali dengan penghargaan ini. "Aku orang Islam, yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan," katanya dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams.

Perhargaan ini membuat iri Presiden Irlandia Eamon de Valera, yang negerinya memiliki 90% umat Katolik. "Saya saja cuma punya satu penghargaan dari Vatikan. Saya iri dengan Anda," katanya saat berjumpa dengan Soekarno.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Magnificatkami - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger